Kopi di Obsat
Posted by Koen on Oct 15, 2010 in Knowledge | 1 comment
Banyak hal2 menarik yang sedang tak sempat dilakukan. Blogging, misalnya; atau mengambil gambar atau mereview buku untuk blog; atau meluangkan waktu berbincang dengan sesama blogger :). Namun, sambil tetap diapit oleh hari2 dengan kesibukan yang menarik, aku meluangkan sebuah Rabu malam untuk kembali hadir di Langsat. Langsat sudah agak berubah. Sebuah rumah di jalan yang sama disewa khusus untuk tempat kopdar (yang disini dinamai OBSAT: Obrolan Langsat), sementara rumah yang lama dikhususkan untuk kantor :). Namun aktivisnya tak banyak berbeda :). Dan aku hadir malam itu, selain agar tampak seolah sopan pada senior, juga karena temanya: kopi :).

Peserta hadir sekitar 20-30 orang. Speakernya Toni Wahid (Cikopi), Adi WT (Secangkir Kopi), Mirza Lukman (Starbucks), Hendri Kurniawan (Espresso 1st). Mungkin masih ada lagi :). Model perbincangan di OBSAT agak unik. Para speaker ada di depan bersama-sama, dan sharing bergantian dengan cara yang agak acak. Judulnya memang obrolan sih, haha. Tapi tetap pakai presentasi Powerpoint :). Dan jadi cukup sulit merunut balik catatan aku untuk mengingat siapa bercerita apa :). Kadang2 satu cerita diceritakan beramai2 juga sih. Kan obrolan.
Berikut beberapa catatan yang sama acaknya:
- Beberapa teknik membuat kopi di rumah:
- Coffee Syfon. Ini favorit Toni W. Ia menggunakan perangkat bermerk Hario dari Jepang. Berbentuk dua tabung cembung yang diikat di bagian tengah. Bubuk kopi diletakkan di atas, dan air di bawah. Air dipanaskan dengan pembakar kecil. Air yang panas menekan ke atas. Panas dan tekanan mengekstraksi kopi.
- Moka Pot. Ini favorit aku sih sebenernya, dan pernah dibahas di blog ini. Tapi sejak pindah ke Jakarta, aku agak malah mengakses kompor dan burner, jadi moka pot ini tak sering lagi digunakan.
- French Press. Ini favorit Starbucks (untuk brewing), dan tak heran kita sering ditawari benda ini di Starbucks. Pernah dibahas di blog ini juga, benda semacam ini menemaniku setiap pagi untuk menyiapkan kopi pagi.
- Vietnam drip. Baca di sini kalau berminat :).
- Kopi tubruk.
- Espresso machine. Tapi yang ini tentu amat serius. Dan mahal, haha.
- Espresso
- Di Italia, kopi adalah espresso. Di café, kopi ini dibuat dan langsung diminum sambil berdiri. Kalau duduk harus bayar lagi :).
- Orang Amerika tak tahan pahitnya espresso. Jadi mereka mengencerkannya dengan air. Dan namanya jadi Americano.
- Kopi espresso terbaik di seluruh dunia umumnya mengandung kopi robusta Indonesia, untuk memberi nuansa rasa pahit yang khas.
- Banyak yang mengira epsresso memiliki kadar kafein paling tinggi. Padahal kafein dilepas terus menerus selama penjerangan. Jadi kemungkinan justru kopi tubruklah yang memiliki kadar kafein tertinggi.
- Kopi di Beberapa Negara
- Di Vietnam, kopi dibuat dengan Vietnam drip. Lalu dicampur dengan susu kental manis :).
- Di India, terutama bagian Utara, orang jarang minum kopi. Juga café agak sulit dicari. Umumnya orang lebih suka masala chai (????? ???) daripada kopi.
- Di Italia, orang tak meminum cappucino di sekitar waktu makan.
- Kopi Indonesia
- Beberapa narasumber sepakat: Kopi Gayo adalah kopi terbaik
- Yang juga patut dicoba adalah kopi-kopi Papua: Wamena, Nabire
- Untuk kopi robusta, konon yang paling schedap berasal dari Temanggung
- Namun sebenarnya tidak ada standar rasa kopi terbaik. Rasa kopi itu sungguh subyektif
- Seluruh narasumber sepakat: kopi luwak rasanya tidak istimewa. Ia terkenal karena promosi, menggunakan seleb, masuk ke Oprah, dan berkesan unik (faeces gitu loh). Banyak rasanya biasa. Banyak sekali kopi yang lebih enak
- Di Banyuwangi ada Kopi Nangka dari kopi terfermentasi yang konon rasanya minta ampun.
- Pengolahan kopi
- Biji kopi dapat disimpan hingga beberapa tahun, dan dikategorikan rasanya berdasar umur. Ini cuma soal rasa, bukan kualitas.
- Roaster menentukan mutu kopi yang terolah. Juga roaster lah yang paling memahami hasil kerja petani kopi.
- Barrista / brewer bertugas mengejawantahkan (sic) hasil kerja roaster. Roaster sebaiknya ex barrista/brewer.
- Setelah kopi disangrai/dipanggang, dia akan mengeluarkan CO2 beberapa hari. Jangan dulu diolah. Untuk kopi blended, sebaiknya ditunggu sekitar 7 hari.
- Setelah digiling, kopi harus segera diminum. Best: digiling dan langsung diminum. Ini karena minyak esensial kopi mudah menguap.
Sambil berbincang, kami juga disuguhi kopi oleh Bel Canto. Surprise: kopi ini dibuat di Malang! Aku pikir tadinya Malang cuman punya Sido Mulia, haha. Bel Canto ini menyediakan kopi-kopi arabika Indonesia berkualitas tinggi: Java, Gayo, Wamena, dll. Bel Canto berbaik hati untuk memberiku sebungkus kopi Gayo untuk dicoba di rumah. Pas kopi Gayo di rumah baru habis. Thank you :).
Pulang … mendadak hujan amat deras mengguyur Jakarta :D
Oh ya, foto di atas diambil dari CIKOPI.COM. Aku lagi nggak bisa bikin foto-foto yang bagus :).
CommentsCaswell's Java
Posted by Koen on Aug 21, 2010 in Coffee, Indonesia | 1 comment
Tapi memang seharusnya ada Undang-Undang atau Peraturan Pemerintah lainnya yang bisa menahan sekian persen produk Indonesia terbaik agar tetap dapat dipasarkan di Indonesia. Teh dan kopi misalnya :). Dengan lelang dan kontrak jangka panjang, teh dan kopi terbaik hampir seluruhnya diekspor. Dan untuk memperolehnya kembali, kita harus melakukan reimport, dalam jumlah yang tentu jauh lebih kecil. Harganya jadi menarik, karena sudah terbebani sekian kali tarif dan bea ekspor dan impor di setidaknya dua negara :). Biarpun tidak secara khusus, Starbucks melakukan reimpor kopi-kopi Indonesia, agar pengunjung asing dapat memperoleh suasana Indonesia dengan kopi Indonesia di Starbucks Indonesia. Importir lain yang cukup menarik adalah Caswell’s.

Cabang Caswell’s Café pertama di Indonesia dibuka di Kemang tahun 2000. Di sini, didapati bahwa banyak pengunjung yang menginginkan kopi Indonesia, yang tentu dipilih dari kualitas terbaik. Henry Harmon, pemilik Caswell’s, memutuskan memenuhi permintaan itu. Ia mengikuti pelatihan2 untuk menyiapkan kopi berkualitas tinggu, lalu mengimpor pemanggang kopi Diedrich Roaster dari US. Barulah ia melakukan reimpor kopi-kopi Java dari Seattle.
Aku sendiri bukan penganut gaya hidup Kemang :). Jadi malah belum berminat datang ke café itu. Sua pertama dengan kopi Caswell’s justru terjadi di Urban Kitchen Pacific Place, tempat Caswell’s sempat menempatkan café kecil. Di sana dijual juga biji2 kopi yang ditempatkan di stoples kaca. Ada Java Mocha, ada Java Jampit, dll. Pada Abang Barista, aku tanya bedanya, dan sambil senyum malu, di mengakui bahwa dia nggak tahu bedanya. Aku harus coba dua2nya. Haha. Mungkin aku yang harus cerita ke Abang Barista bahwa Jampit adalah nama salah satu perkebunan di Gunung Ijen yang menghasilkan Java Arabica. Jadi nama itu mengimplikasikan kopi arabica yang 100% berasal dari Jampit. Homogen. Sedangkan Java Mocha, mungkin hasil blend.
Di sebelah East Mall Grand Indonesia ada Ranch Market baru. Di sana aku bersua Caswell’s lagi. Kali ini sudah dalam kemasan kedap udara yang rapi, berwarna hitam, dengan label stiker yang berisi jenis kopi, lengkap dengan penjelasannya. Java Mocha ternyata adalah blend dari Java dengan sedikit tambahan dari Abyssinia (tempat kopi mocha yang asli berasal). Aku ambil dua bungkus kemasan seperempat kilo, satu Java Jampit dan satu Java Mocha.
Si Java Mocha menemaniku sahur dari hari pertama Ramadhan tahun ini. Digiling 13,7 detik dengan grinder kecilku, terus disedu dalam cafetière selama 5 menit. Perfect taste. Memang soal rasa itu subyektif, jadi aku juga nggak banyak bahas di blog ini :). Tapi ini terasa pas sekali untuk menutup sahur, sekaligus mencatu darah dengan kafein sepanjang hari-hari Ramadhan.
CommentsCarpuccino: Mobil Berbahan Bakar Ampas Kopi
Posted by Koen on Mar 16, 2010 in Escape, Knowledge | 0 comments
IET, Institution of Engineering and Technology, adalah asosiasi insinyur internasional yang berpusat di Inggris. Minggu ini di web IET mendadak ada berita menarik tentang mobil berbahan bakar kopi. Mobil ini adalah VW Scirocco tahun 1988 yang dibeli di eBay seharga £400, kemudian dimodifikasi sehingga ia tak memerlukan bahan bakar lain, selain ampas kopi. Ampas kopi! Penciptanya adalah Jem Stansfield, seorang presenter dari BBC. Ia merakit pembakar yang memanggang ampas kopi sehingga menghasilkan uap yang mudah terbakar, lalu memproses uap itu menjadi energi.
Mobil ini mampu menempuh perjalanan dari London ke Manchester, dengan bahan bakar ampas kopi dari 11.000 takar espresso.Mobil dibawa dari BBC TV Centre di London, melalui Birmingham, Coventry (tentu saja!), dan Crewe, dan berakhir di Bing Bang Science Fair di Manchester. Perjalanan memakan waktu 17 jam, karena sempat ada hambatan.

Mobil ini tentu masih jauh dari sempurna. Harus berhenti setiap 60-70 mil untuk memastikan penyaring bersih. Juga suhu harus terus menerus diamati, dan perlu didinginkan saat suhu terlalu tinggi. Tapi kecepatan bisa mencapai sekitar 100 km/jam (55 – 70 mph di artikel aslinya). Tak buruk untuk energi dari limbah!
Penelitian memang mengungkapkan bahwa bubuk kopi memiliki kandungan energi yang lebih tinggi dan menghasilkan lebih sedikit abu ketika dibakar, dibandingkan dengan limbah kertas, daun atau kayu. Dengan dana yang terbatas dari BBC – yang berjumlah hanya £ 700 – Stansfield dkk membangun mobil yang dinamai Carpuccino itu di rumahnya di Brighton.
CommentsJangan-Jangan, Kopi Baik Buat Jantung
Posted by Koen on Feb 9, 2010 in Knowledge | 2 comments
Peringatan: Artikel ini tidak menggantikan, menambahi, dan tak tak dapat dibandingkan dengan nasehat dan konsultasi dokter.
Aku mendadak terantuk ke tulisan lama (17 Juni 2008) di Boing-Boing. Konon waktu itu ada sebuah penelitian justru menunjukkan bahwa peminum kopi justu lebih rendah kemungkinannya meninggal karena penyakit-penyakit seperti serangan jantung, stroke, dan aritmia. Hmmm, apakah ini kausalitas? Dan kalau ya, ke arah mana? Haha.
Edidemiologists dari Universitas Madrid telah menganalisis data dari lebih dari 120.000 pria dan wanita. Menurut penelitian mereka, perempuan yang minum empat atau lima cangkir kopi dalam sehari mengalami kemungkinan 34 persen lebih kecil untuk mati akibat penyakit jantung. Pria yang minum lebih dari lima cangkir sehari itu 44 persen lebih kecil kemungkinannya untuk ditaklukkan penyakit jantung. Namun, ada terlalu banyak variabel dan anasir tak diketahui dalam penelitian ini, sehingga belum dirasa patut untuk dijadikan rekomendasi pengobatan.

Sang peneliti, Esther Lopez-Garcia, berspekulasi bahwa senyawa anti-inflamasi yang ditemukan dalam kopi mungkin berpengaruh atas manfaat kesehatan ini. Walaupun tingkat kafein yang tinggi dapat meningkatkan kemungkinan menderita serangan jantung dengan meningkatkan tekanan darah, katanya, namun … “hipotesis kami adalah bahwa kafein memiliki efek jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang, aspek lain dari kopi adalah lebih kuat.”
Patut diperhatikan bahwa banyak penelitian lain yang justru menunjukkan hasil yang sebaliknya. Pada tahun 2007, Epidemiolog Francesco Sofi dari Universitas Florence menganalisis lebih dari 20 penelitian yang berkaitan dengan kopi dan kesehatan, dan menemukan hanya sedikit kesepakatan. Mungkin ini juga terkait dengan genetika. Pada tahun 2006, sebuah tim peneliti Kanada menemukan bahwa orang dengan mutasi pada gen yang berkait dalam metabolma kafein memiliki tingkat serangan jantung yang lebih tinggi dibandingkan orang tanpa mutasi.
CommentsBlack Kiss
Posted by Koen on Jan 18, 2010 in Escape | 0 comments
Tapi sebenarnya aku bukan seorang coffee connoiseur. Buktinya, aku juga doyan berbagai macam kopi, termasuk kopi instan, kopi jahe, dan kopi2 bercampur benda2 menarik lainnya :).
Akhir minggu lalu aku berkenalan dengan Black Kiss. Produk Lipton ini sebenarnya dilabeli “Milk Tea” :). Tapi kalau kita baca, kandungan teh instan ini meliputi gula, krimer, bubuk susu dengan lesitin kedelai (19,39%), teh instan (3,64%), bubuk kopi (3,64%). Ya, teh susu ini mengandung kopi! Dan aku agak tertarik melihat kandungan teh dan kopinya yang bisa serupa sampai dua angka di belakang koma itu. Mencampur teh dan kopi memang bukan pekerjaan mudah. Salah takar sedikit, maka salah satu akan mendominasi sambil menghilangkan cita rasa satunya. Keseimbangannya terganggu.

Namun terbukti, Black Kiss berhasil menyusun paduan yang tepat sekali antara teh dan kopi. Ini experience ringan yang membuat suasana sore atau pagi jadi ceria, saat kita hanya punya beberapa detik untuk berlepas dari desakan kerja harian kita, saat kita sekedar ingin melegakan hati dan menceriakan pikiran dengan hal2 yang manis dan memberi spirit hidup, bukan mengisi kepala dengan perenungan tajam secangkir kopi hitam :).
Dan kopinya? Di sachetnya cuma ditulis: “Country of origin: Indonesia” :). Kopi Indonesia masih yang terbaik.
CommentsKopi Menurunkan Fibrosis Hati?
Posted by Koen on Jan 13, 2010 in Knowledge | 2 comments
Peringatan: Artikel ini tidak menggantikan, menambahi, dan tak tak dapat dibandingkan dengan nasehat dan konsultasi dokter.
Sebuah berita dari UPI yang diretweet oleh Pak Nukman menyampaikan kesimpulan dari para peneliti, bahwa pasien penyakit hati (liver) — yang diakibatkan virus hepatitis C kronis — yang mengkonsumsi sekitar 2 cangkir kopi berkafein setiap hari akan mengalami penurunan tingkat fibrosis hati. Peneliti utama Dr Apurva Modi dkk dari National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases menemukan bahwa untuk pasien dengan virus hepatitis C kronis, sumber-sumber kafein lain tidak memiliki efek terapi yang sama.
Fibrosis hati, atau jaringan parut pada hati, adalah tahap kedua dari penyakit hati, yang dicirikan oleh kerusakan fungsi hati akibat akumulasi jaringan ikat.
Dari Januari 2006 hingga November 2008, semua pasien dievaluasi di Cabang Penyakit Hati di Institut Kesehatan Nasional. Mereka diminta mengisi kuesioner untuk menentukan konsumsi kafein. Pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan: minuman biasa atau diet; kopi biasa atau kopi tanpa kafein; teh hitam, hijau, atau herbal; dan pertanyaan2 lain yang berkait dengan konsumsi kafein. Hasilnya adalah kesimpulan bahwa efek yang menguntungkan ini memerlukan konsumsi kafein di atas ambang batas sekitar 2 cangkir kopi atau setara setiap hari. Kesimpulan lain adalah bahwa konsumsi soda, teh hitam, teh hijau atau bahan lain yang mengandung kafein tidak berhubungan dengan pengurangan fibrosis hati. Penelitian ini lalu diterbitkan dalam jurnal Hepatology.
CommentsAged Sumatra
Posted by Koen on Jan 3, 2010 in Coffee, Indonesia | 3 comments
Kolonialis Belanda memang mula-mula menanam kopi arabika di Jawa; dan menginternasionalkan nama “Minuman Java” ke publik Amerika dua abad yang lalu. Namun tak lama budidaya kopi arabika diekspansi juga ke Sumatra dan Sulawesi. Dan bencana. Hama yang meluas membuat sebagian besar kebun kopi di Nusantara hancur dan digantikan oleh kopi robusta yang lebih tahan hama, meninggalkan kebun-kebun arabika hanya di puncak-puncak gunung yang tinggi.
Kopi Sumatra memiliki reputasi internasional yang khas. Dibandingkan kopi Indonesia lainnya, kopi Sumatra terasa lebih kuat, lebih keras. Di Indonesia sendiri, nama Kopi Aceh (Gayo), Kopi Medan (Sidikalang), Kopi Lampung, dll, diasosiasikan sebagai kopi keras. Apakah orang Sumatra juga lebih dinamis? Haha, ini diskusi lain :).
Para kolonialis dulu menyimpan biji-biji kopi Sumatra di gudang-gudang mereka, lalu membawanya melalui kapal-kapal dalam bentuk biji mentah. Perjalanan laut membawa kopi Sumatra dalam jumlah besar, bersama dengan berbagai rempah dan hasil bumi lainnya. Aroma kopi berpadu dengan aroma kayu, rempah, uap lautan, dan suhu yang tidak ramah, dalam waktu mencapai tahunan; menghasilkan biji kopi tua (aged coffee) dengan cita rasa khas, dan kualitas yang justru makin baik.
Pecinta Kopi Aroma di Bandung tentu juga sering dipameri, bahwa kopi di sana disimpan dulu hingga 7 tahun baru kemudian dipanggang dan diolah — menghasilkan reputasi Kopi Aroma yang luar biasa di Indonesia.
Akhir tahun lalu, Starbucks mencoba mereproduksi kopi “Aged Sumatra” ini. Kopi-kopi Sumatra (Sumatra, Sumatra Decaf, BAE Sumatra Siborong-Borong) pun sebenarnya memiliki reputasi sebagai kopi “lebih bold daripada yang bold” di antara kopi-kopi Starbucks lainnya. Namun mereka mencoba membuat Kopi Sumatra yang lebih kuat lagi. Kopi-kopi Sumatra ini disimpan hingga 5 tahun dalam gudang terpisah dalam lingkungan alami mereka, baru kemudian diolah.

Hasilnya konon adalah kopi dengan aroma bernuansa pohon cedar yang dinamis, perasaan tebal dan kental, dan rasa yang kuat. Tapi itu adalah menurut beberapa yang sudah merasai. Kita sendiri harus cobai untuk bisa menunjukkan bedanya kopi cita rasa Indonesia ini dibandingkan kopi-kopi terkenal lainnya.
Starbucks sendiri memberikan tag: A bold, exotic coffee from a land of tigers and spices … our boldest cup to date.
Tambahan: Ternyata, berbeda dengan yang digambarkan, kopi ini lembut tak menghentak. Sedap :)
Comments